Home      Berita Terkini       Agenda Kegiatan       Kalender Akademik       Kumpulan Artikel       Galeri Foto       Kontak Kami       Buku Tamu
STIKes Maharani Membuka Pendaftaran Mahasiswa Baru TA 2017/2018 jadwal pendaftaran Gelombang I = 02 Januari 2017 - 30 Juni 2017, Gelombang II = 1 Juli 2017 - 09 September 2017. Untuk pertanyaan seputar pendaftaran silahkan klik buku tamu atau kontak kami
 
Bahasa/Language   
 
   
Halaman depan
Profil Stikes
Fasilitas Pendukung
Rencana Pengembangan
Alur Proses Pendaftaran Mahasiswa Baru
Visi dan Misi STIKes Maharani Malang
Struktur Organisasi STIKES MAHARANI
Penerimaan Mahasiswa Baru
Kemahasiswaan
E-LEARNING
E-JOURNAL
Publikasi Ilmiah
Unduhan Dokumen Akademik
Angket Evaluasi Dosen
Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Sistem Informasi Akademik Mahasiswa
Sistem Informasi Akademik Dosen
Website DIKTI,BAN-PT, Kopertis 7
Informasi KRS
 
Pendaftaran MABA
 
D3 Kebidanan
D3 Analis Kesehatan
Pendidikan Profesi Ners
 
 
Untitled Document
KUMPULAN ARTIKEL

 
Lampu Merah 
Penulis: lumadi@ymail.com [ 18/2/2015 ]
Lampu Merah

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau.

Mike segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang.

Lampu berganti kuning. Hati Mike berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.

Mike bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Mike menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu kan Jack, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Mike agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

“Hai, Jack. Senang sekali ketemu kamu lagi!”

“Hai, Mike.” Tanpa senyum.

“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?” Tampaknya Jack agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Jack, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

Oh-oh, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Mike harus ganti strategi. “Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo dong Mike. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”

Dengan ketus Mike menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Jack menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Jack mengetuk kaca jendela. Mike memandangi wajah Jack dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Jack kembali ke posnya.

Mike mengambil surat tilang yang diselipkan Jack di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Mike membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Jack.

“Halo Mike,

Tahukah kamu Mike, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.

Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.

Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.

Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Mike. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah.

Jack”

Mike terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Jack. Namun, Jack sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita.

“Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati”

 
 
Kembali Ke atas | Kembali Ke Index Artikel
 
 
Silahkan mengisi buku tamu
Hari ini: Rabu, 22 November 2017
Kunjungan hari ini : 46
Pengunjung online : 1
Total Kunjungan : 213384
 
(c) 2009-2017 STIKES MAHARANI MALANG
Jl. Akordion Selatan 8B Malang - Jawa Timur Telp. (0341) 4345375 Fax. (0341) 4345375
www.stikesmaharani.ac.id - email: informasi@stikesmaharani.ac.id
 
Designed & Developed by Adhamweb Dot Com
Pengisian form pendaftaran online